Thomas Haryanto Soekiran
Kejadian Empat Kebun
Binatang
Buaya. Buaya hanya mau mengawini dengan pasangannya saja.
Takpeernah bias selingkluh.
Berani dengan betina yang lain katika kekasihnya telah mati.
Sekalipun begitu tetap saja buaya. Keranjang.
Kemana mau diam membisu.menyembunyikan bijak.enyembunyikan kesetiannya.
Menyembunyikan kecerdasannya.
Hingga jauh dari tebar pesona. Jauh dari gemagah.
Sekalipun begitu tetap saja mata ke
ranjang.
Padahal kemanapun pergi tak pernah membawa keranjang.
Kupukupu.
Bersahabat tak mau berkhianat.
Bukan karena takut kwalat.
Tapi memang sudah kodrat. Kodrat untuk selalu tak boleh
menyakiti.
Tak banyak suara.
Tak banyak ngomong.
Biarpun siklus kekepompong.
Harus menghindar dari gelap.
Harus menjauh dari cahaya.
Sebabbila sekali saja sendirian menyusur malam.
Tetap saja kupukupu malam.
Semua binatang yang paling buas sekalipun ternyata
merindukan menjadi manusia.
Oh manusia.
Benarkah manusia benarbenar manusia.
Sampai-sampai binatang buaspun merindukan menjelma jadi
manusia.
2016,Padepokan seni
matahariku purworejo
W Haryanto,
Magrib itu,
Burung-burung Gagak
cahayamu
pergi. putih.
ke kulit
sumur
sepucuk
tanya yang diperebutkan dalam buku
buku
perpustakaan yang lusuh
sampai
rumpun lengkap membagi peran
dengan
dini hari. setelah karnaval sepanjang malam
cahayamu
pergi seperti barisan burung-burung
yang
mengakhiri warna lapar yang mendesak...
pagi yang
penat. kampung-kampung larut warna
bekas
hujan tertiup. kau terlihat asyik
memainkan
lagu-lagu komedi. kemiskinan ini
punya
lobang tikus. licik!--bertahun-tahun burung
burung
tahu setiap jawabmu tak pernah sama
kemiskinan
ini!--kata-kata yang terpisah
dari
kenyataan
(Sidoarjo, 21 Juni 2016)
W Haryanto
Ikan Pari
laut tak
lenyap, semakin biru lukaku!
di sini.
dekat magrib yang gaib, masih kularut,
sendiri,
berbagi kesal dengan esok,
semakin
biru. laut membatasi tepian.
separuh
diri ini mati. tapi separuh yang lain
jadi
terbiasa dengan cinta yang percuma.
aku tahu,
percuma menunggu angin selesai.
di jam 6
sore. Kenjeran punya batas
dan
pilihan yang tegas. burung-burung sibuk
mencatat
yang lewat pada tikungan,
di mataku
magrib turun, terlukis kesan,
bunga yang
kecut tertahan di tangan,
kadang aku
salah membaca arah, kadang
kesabaran
ini kelewat gigih dengan angan cinta
yang
menyimpan seorang mayat.
laut ini
kembali meruncing, tak terukur!
tak cukup
bagiku menyimak batas peta,
bulanku
lumpuh rasa, tubuhku rupuh
seperti
lagu tasbih yang melengkapkan laut,
mengucap
ngilu nada yang berulang-ulang.
(Sidoarjo, 20 Juni 2016)
Wadie Maharief
Cecak dan
Buaya
cecak kecil
tidak berani melawan buaya
tapi cecak tidak takut
bermain dengan buaya-buaya
buaya besar
pasti tidak takut sama cecak
tapi buaya tidak mau
menelan cecak
karena tidak akan membuat
kenyang perutnya
cecak suaranya nyaring
kalau cecak bersuara
suka membuka rahasia
buaya suka menangis
kalau buaya menangis
tak perlu dipercaya
---- Yogya 13 Agustus
2016
Wadie Maharief
Kebun Binatang
seekor anjing liar
menggonggong-gonggong
di luar kebun binatang
seperti seorang provokator
memancing suara lain
saat makan siang
belum juga dikirim para pawang
maka seisi kebun bintang
pun menyambut
gonggongan itu serentak
dengan suara bagai koor
yang tak terkoordinasi
saling berebut paling keras
saling berebut paling nyaring
saling berebut paling ribut
monyet dan kawan-kawan
bersungut-sungut sambil melompat-lompat
para gajah menari-menari dengan belalainya
kelompok kuda dan kijang meringkik-ringkik
buaya dan ular mangap-mangap
sambil menjulurkan lidah berbisa
kecuali singa dan harimau
diam tak peduli
seperti kehilangan selera makan
"akh, gara-gara seekor anjing liar
kebun binatang ini jadi ribut,"
katanya, lalu merebahkan tubuhnya
dengan tetap waspada
------- Yogya 11 Agustus
2016
55.Wahyudi Abdurrahman Zaenal,
Senum Arwana Simbol Belaka
Ketika mereka dijadikan simbol kehidupan dunia nampaknya
tentram-tentram saja
Wajah ceria segar menggelembung pada akuarium senyum sapa
semesta
Glamour kesan menuang manja hidup bagai tiada suatu
kekurangan
Warna boleh indah sisik sangat sempurna menawan para
kolektor
Napas terbelenggu pada sekatan kontes yang menyesakkan
kehidupan alami
Bergaya bak selebritis hanya untuk kepuasan manusia pemuja kesempurnaan
Nun jauh di pedalaman habitat kian punah diburu penjarah
Inginkan nilai jualmu yang kian melangit tanpa sadar
lenyapkan
Senyummu Arwana dalam kerangkeng simbol belaka langka di
mata
Pontianak, 15 Agustus
2016
Wans Sabang
Kupu-kupu
Malam
kalau boleh ia memilih:
selamanya menjadi ulat
dalam kepompong pedih
dari pada keindahannya hanya fatamorgana
Busway, 12 Agustus 2016
Wans Sabang
Kutu
Loncat
: Ahok
Untuk apa ktp?
Hari ini kau bilang teman kami,
besok kau bilang teman Megawati, beaoknya lagi kau bilang
temannya Jokowi.
Aku cuma kutu buku tak mungkin jadi teman kamu,
lagi pula siapa yang mau berteman dengan kamu?
Kutu loncat tukang caci maki.
Bogor, Agustus 2016
Yuyun Ambarwanto
Sajak Burung
Rimba
Beburung rimba berkicau mencumbui rerimbun alam raya
Seolah pohon, batang, dahan, ranting, dan daun menjadi
istana tuk bercengkerama
Mereka berterbangan melintasi cakrawala
Hingga suatu ketika terhenti di sebuah pohon tua
Terbersit olehnya, cerita pohon-pohon cemara
Bertuturlah burung kepada kawannya
Setialah kita pada pasangannya
Ambilah hikmah yang ada di sekeliling kita:
Ibarat dahan tak pernah mengeluh menopang ranting yang
kering
Dimana daun justru berselingkuh dengan batang yang lain
“Masih adakah rindu diantara kita?”, tanya akar dalam gamang
Burung pun bergeleng-geleng kepala, sambil merawat rindu
yang tak bertepi perihnya
Wonogiri, 17 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar