Rabu, 14 September 2016

Dari Thomas Haryanto Soekiran, W Haryanto, Wadie Maharief, Wans Sabang, Yuyun Ambarwanto



Thomas Haryanto Soekiran

Kejadian Empat Kebun Binatang

Buaya. Buaya hanya mau mengawini dengan pasangannya saja.
Takpeernah bias selingkluh.
Berani dengan betina yang lain katika kekasihnya telah mati.
Sekalipun begitu tetap saja buaya. Keranjang.
Kemana mau diam membisu.menyembunyikan bijak.enyembunyikan kesetiannya.
Menyembunyikan kecerdasannya.
Hingga jauh dari tebar pesona. Jauh dari gemagah.
Sekalipun begitu tetap saja mata ke
ranjang.
Padahal kemanapun pergi tak pernah membawa keranjang.
Kupukupu.
Bersahabat tak mau berkhianat.
Bukan karena takut kwalat.
Tapi memang sudah kodrat. Kodrat untuk selalu tak boleh menyakiti.
Tak banyak suara.
Tak banyak ngomong.
Biarpun siklus kekepompong.
Harus menghindar dari gelap.
Harus menjauh dari cahaya.
Sebabbila sekali saja sendirian menyusur malam.
Tetap saja kupukupu malam.
Semua binatang yang paling buas sekalipun ternyata merindukan menjadi manusia.
Oh manusia.
Benarkah manusia benarbenar manusia.
Sampai-sampai binatang buaspun merindukan menjelma jadi manusia.
2016,Padepokan seni matahariku purworejo






 W Haryanto,

Magrib itu, Burung-burung Gagak

cahayamu pergi. putih. 
ke kulit sumur
sepucuk tanya  yang diperebutkan dalam buku
buku perpustakaan yang lusuh
sampai rumpun lengkap membagi peran
dengan dini hari. setelah karnaval sepanjang malam
cahayamu pergi seperti barisan burung-burung
yang mengakhiri warna lapar yang mendesak...

pagi yang penat. kampung-kampung larut warna
bekas hujan tertiup. kau terlihat asyik
memainkan lagu-lagu komedi. kemiskinan ini
punya lobang tikus. licik!--bertahun-tahun burung
burung tahu setiap jawabmu tak pernah sama
kemiskinan ini!--kata-kata yang terpisah
dari kenyataan
 (Sidoarjo, 21 Juni 2016)







W Haryanto

Ikan Pari

laut tak lenyap, semakin biru lukaku!

di sini. dekat magrib yang gaib, masih kularut,
sendiri, berbagi kesal dengan esok,
semakin biru. laut membatasi tepian.
separuh diri ini mati. tapi separuh yang lain
jadi terbiasa dengan cinta yang percuma.
aku tahu, percuma menunggu angin selesai.
di jam 6 sore. Kenjeran punya batas
dan pilihan yang tegas.  burung-burung  sibuk
mencatat yang lewat pada tikungan,

di mataku magrib turun, terlukis kesan,
bunga yang kecut tertahan di tangan,
kadang aku salah membaca arah, kadang
kesabaran ini kelewat gigih dengan angan cinta
yang menyimpan seorang mayat.

laut ini kembali meruncing, tak terukur!

tak cukup bagiku menyimak batas peta,
bulanku lumpuh rasa,  tubuhku rupuh
seperti lagu tasbih yang melengkapkan laut,
mengucap ngilu nada yang berulang-ulang.
 (Sidoarjo, 20 Juni 2016)






Wadie Maharief

Cecak dan Buaya

cecak kecil
tidak berani melawan buaya
tapi cecak tidak takut
bermain dengan buaya-buaya

buaya besar
pasti tidak takut sama cecak
tapi buaya tidak mau
menelan cecak
karena tidak akan membuat
kenyang perutnya

cecak suaranya nyaring
kalau cecak bersuara
suka membuka rahasia
buaya suka menangis
kalau buaya menangis
tak perlu dipercaya
---- Yogya 13 Agustus 2016







Wadie Maharief

Kebun Binatang

seekor anjing liar
menggonggong-gonggong
di luar kebun binatang
seperti seorang provokator
memancing suara lain
saat makan siang
belum juga dikirim para pawang
maka seisi kebun bintang
pun menyambut
gonggongan itu serentak
dengan suara bagai koor
yang tak terkoordinasi
saling berebut paling keras
saling berebut paling nyaring
saling berebut paling ribut
monyet dan kawan-kawan
bersungut-sungut sambil melompat-lompat
para gajah menari-menari dengan belalainya
kelompok kuda dan kijang meringkik-ringkik
buaya dan ular mangap-mangap
sambil menjulurkan lidah berbisa
kecuali singa dan harimau
diam tak peduli
seperti kehilangan selera makan

"akh, gara-gara seekor anjing liar
kebun binatang ini jadi ribut,"
katanya, lalu merebahkan tubuhnya
dengan tetap waspada

------- Yogya 11 Agustus 2016






55.Wahyudi Abdurrahman Zaenal,

Senum Arwana Simbol Belaka

Ketika mereka dijadikan simbol kehidupan dunia nampaknya tentram-tentram saja
Wajah ceria segar menggelembung pada akuarium senyum sapa semesta
Glamour kesan menuang manja hidup bagai tiada suatu kekurangan
Warna boleh indah sisik sangat sempurna menawan para kolektor
Napas terbelenggu pada sekatan kontes yang menyesakkan kehidupan alami
Bergaya bak selebritis hanya untuk kepuasan manusia pemuja kesempurnaan
Nun jauh di pedalaman habitat kian punah diburu penjarah
Inginkan nilai jualmu yang kian melangit tanpa sadar lenyapkan
Senyummu Arwana dalam kerangkeng simbol belaka langka di mata

Pontianak, 15 Agustus 2016





Wans Sabang


Kupu-kupu Malam

kalau boleh ia memilih:
selamanya menjadi ulat
dalam kepompong pedih
dari pada keindahannya hanya fatamorgana

Busway, 12 Agustus 2016


Wans  Sabang

Kutu Loncat
: Ahok

Untuk apa ktp?
Hari ini kau bilang teman kami,
besok kau bilang teman Megawati, beaoknya lagi kau bilang temannya Jokowi.
Aku cuma kutu buku tak mungkin jadi teman kamu,
lagi pula siapa yang mau berteman dengan kamu?
Kutu loncat tukang caci maki.

Bogor, Agustus 2016



 
Yuyun Ambarwanto

Sajak Burung Rimba

Beburung rimba berkicau mencumbui rerimbun alam raya
Seolah pohon, batang, dahan, ranting, dan daun menjadi istana tuk bercengkerama
Mereka berterbangan melintasi cakrawala
Hingga suatu ketika terhenti di sebuah pohon tua
Terbersit olehnya, cerita pohon-pohon cemara
Bertuturlah burung kepada kawannya
Setialah kita pada pasangannya
Ambilah hikmah yang ada di sekeliling kita:
Ibarat dahan tak pernah mengeluh menopang ranting yang kering
Dimana daun justru berselingkuh dengan batang yang lain
“Masih adakah rindu diantara kita?”, tanya akar dalam gamang
Burung pun bergeleng-geleng kepala, sambil merawat rindu yang tak bertepi perihnya

            Wonogiri, 17 Agustus 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar