Senin, 11 Januari 2016

Nanang Suryadi

 Nanang Suryadi

aku ingin menangkap ikan dari ide yang kering

seekor ikan melompat ke kolam, saat banjir tiba. kolam itu kering di musim kemarau. seekor ikan berenang di jalanan beraspal dan berdebu, sekering ide dalam kepalaku. perhatikan ranggas pohon itu, daun-daunnya yang kuning, serupa rambutku yang mulai rontok. siapa itu yang berteriak: jangan tertawa, langit masih tak ingin menyelesaikan hujannya. kalimat sudah pernah aku tuliskan, dimana? mungkin di dalam mimpimu saat membaca bukuku yang tak pernah diterbitkan. bagi kalimat yang tak pernah sempat dituliskan tak akan ada yang menangisimu, katanya sambil menghapus matanya yang sembab. ya, ya, karena puisi hanya permainan kanak yang tak mau segera dewasa.
hei, kemana ikan yang aku tangkap tadi? seekor ikan menggelepar gelepar di tanganmu, serupa kata-kata menggelepar, di kolam kering. siapa itu yang berteriak: hei, kemana ikan yang menggelepar tadi? dia melompat ke dalam kepalamu yang penuh air terjun.
aku akan kembali, memungut remah dari kata-kata yang tak pernah dihabiskan. di mana alamatmu? seekor ikan melotot dan melompat ke apartemen yang belum jadi. siripku, sayap yang pernah patah di kelopak bunga, kata ikan itu, menceritakan dirinya yang pernah menjadi kupu-kupu. ciumlah aku, kata bunga itu, kupu-kupu gemetar dan sayapnya patah, saat itu.
sudah, sudah, tak ada yang lebih sampah dari segala muntah, kata seekor ikan yang menggelepar di dalam kepalaku. aku ingin tidur, terpejam dan melupakan dunia yang teramat gaduh.
seekor ikan terbang ke langit, mencari kolam yang penuh air terjun, sungai-sungai yang bening
Malang, 17 Oktober 2011

Nanang Suryadi

Nanang Suryadi

SEEKOR IKAN BERENANG DI LANGIT

untuk: kang badri @indiejeans

aku menghikmati kesunyian, seperti menghikmati kehidupan. tak ada yang aneh dengan puisi
seperti juga senja ini, seekor ikan berenang di langit, ikan yang kau lepas tadi pagi
seekor ikan berenang-renang di langit, dan para perindu tertawa girang sekali
seekor ikan demikian riang, berenang-renang di langit, langit yang tenang
aku gemetar menatap langit, tapi ujarmu: lihat nanang, ikan berenang di langit, serupa kenang
para perindu, para pecinta menyeru-nyeru, namun engkau tetap tersenyum melulu. “lihat ekornya indah bukan?” ujarmu.
seekor ikan berenang di langit. berjumpa dengan rindu