Damar Angara
Jepet
-dan lesaplah
masa ke dalam genangan pitam, larik yang menghampar di sudut kampung, ikan-ikan
melayari rindu. daun padi bersemayam teduh silsilah, jepet kepala merah.
Bertahun lepas,
Riwayat tinggalah ampas,
-dilarung pula kenangan itu.
Kisah magis tentang jepet, ikan lezat dari pojok kampung,
Riwayat tinggalah ampas,
-dilarung pula kenangan itu.
Kisah magis tentang jepet, ikan lezat dari pojok kampung,
Sirna!
Telah sirna.
Sebeku beton merayapi sawah.
Telah sirna.
Sebeku beton merayapi sawah.
Demak, april 2016
Dedy Tri Riyadi
Rusa
Aku tak pernah tahu --
apakah dia bahagia
ketika pintu di lambung
perahu dibuka.
Seperti dari Mesir, ada yang
dipanggil untuk memanggul
sebatang dosa.
Aku bisa juga menduga --
dia berpura-pura.
Seperti dulu di Mara,
orang terpaksa minum
air pahit dari telaga.
Menuruni Ararat, dia menangis.
Merasa banjir belum berakhir.
Sewaktu merpati membawa
setangkai daun zaitun,
dia merasa begitu getun.
Barangkali, dia ingin berlari
mengitari padang. Atau berbaring
di samping batang tarbantin.
Barangkali dia memang ingin
berpaling dari kemah Si Tua
itu dan tak lagi menoleh
jejak tangis yang mulai kering.
Barangkaliinitak lain
karena dia hanya
seekor rusa.
2015
Dedy Tri Riyadi
Balada
Tukang Kuda
Dia hampiri
hamparan rerumput
dengan sejumput niat
-- meletakkan kiat melekat erat
pada sebungkuk punggung.
Punggung yang lama memanggungkan sejarah agung
laskar penyerbu bermata lamur dari sebelah timur.
Punggung yang ketika membungkuk,
sedepa demi sedepa bangsa-bangsa bangkit dan takluk,
dan mengira kutukan telah ditimpakan
sejak besi-besi itu ditempa.
Meski besi berupa sanggurdi dan ujung pelana,
dia juga pedang dan cerana.
Pada sisinya, dia merasa dunia jadi meja judi
dan sebuah kekalahan pertama.
Tapi dia bukan seorang dari Pandawa.
Dia hanya tukang kuda.
Pemelihara yang memicu sebuah pacuan
dan penyedia pakan. Dan pada hamparan rerumput itu,
dia berjalan.
Dia berjalan seperti membawa susu
untuk bayi dalam dirinya. Dunia, katanya,
tak lebih dari dengus semata.
Selebihnya gema.
Karenanya dia berjalan,
bukan berlari.
Sebab dia membawa bayi dalam diri.
Bayi yang belum bisa mengerti
betapa bahaya ular yang menanti
di dekat akar dan sumber air.
Ular yang mengerti -- "O. Betapa sukar bisa
memberi..."
Dia berjalan di rerumputan
tidak seperti Gautama pada kuntum padma.
Dia akan berjalan sampai padam warna matahari.
Sampai semua kuda habis dipacu,
di bawah basuhan biru langit itu.
Langit yang terbuka serupa matanya.
Serupa pandang yang tak tamat ditumpahkan
pada sebuah padang, di mana dia temukan
-- dirinya seperti deru ladam
di dalam sebuah pacuan.
Dan dia dengar kembali
gemerincing itu.
2016
Denting Kemuning
Perempuan
Kunang –kunang dan Srigala Belia
Malam melesam memanggil
mimpi
Sejauh mana bermain dalam imajenasi
Bias asmara maya terselimuti
Tersayat asmara kembali pasi
Manis kunang-kunang dalam sebuah cawan
Sorot mata tajam mengujam
Sebatang rokok terisap dalam dalam
Dalam sudut kamar kenangan
Merebah girang di singgasana romantic
Srigala bergegas lepaskan senyap
Di lengkung langit yang pengap
Mata rabun runcingkan kumis
Geliat malam memuisikan mimpi
Melodi rindu melanda hati
Gebu lepaskan nafas cinta
Pada dinding kunang-kunang dan serigala
02-01-15
Denis Hilmawati
Gajah
Menangis
Dor...! Dor ! Dor!
Peluru merobohkan seekor gajah
Bayinya sedang menyusu
Induk Gajah terluka
Air mata berderai
Pemburu berhati batu
Tiada jera membunuh satwa
Hanya demi ambisi semata
Merusak habitat dan ekosistemnya
Bayi gajah meneteskan air mata
Induknya mati terkapar tanpa daya
Bagaimana nanti nasib dirinya
Tanpa induknya, bayi gajah terancam bahaya
Bekasi, 15 08 2016
Denis Hilmawati
Cinta INTA
SEJATI INDUK MACAN
Seekor induk kera diterkam Jaguar
Menangis pilu karena sedang
menyusui bayinya
Sang Jaguar terlambat menyadarinya
Bayi kera tiada berdaya
Dibawanya pulang ke sarangnya
Bayi kera disusuinya
Bayi kera dan bayi jaguar bersaudara
Cinta Induk jaguar luar biasa
Bekasi, 14 Agustus
2016
Dharmadi, DP
Bak Sniper
dibidik
sasaran
sejoli
perkutut yang sedang pepasihan
di dahan
phon mangga
tak lama
ada letusan, dor;
seekor
perkutut terkapar,
ada darah
ada air mata.
Daviatul Umam
Ratapan
Arwah Pohon
Kau jagal
Kau bakar
Tubuhku di negeri yang sangat penat
Dan memucat
Jasadku dimana entah
Aku tak peduli
Aku telanjur giur mencumbu Ilahi
Namun kemana anak-anakku memburu takdir?
Mungkinkah dicabik-cabik petir
Dikais sampah-sampah sungai dan selokan
Di laut kemiskinan yang tercipta dari murka hujan?
Ataukah hangus dalam sansai kemarau
Seiring puing-puing daging negara
Tambah hari semakin merisau?
Tidak!
Kuharap mereka selamat
Kuharap tiang merah-putih pulih tegak
Wahai yang terhormat!
Tiada aku
Tiada sesalkah hayatmu?
Memang aku yang direnggut maut
Tapi jiwa siapa sajakah turut terhanyut?
Sumenep, 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar