Rabu, 14 September 2016

Dari Damar Anggara sampai Daviatul Umam



Damar Angara
Jepet
-dan lesaplah masa ke dalam genangan pitam, larik yang menghampar di sudut kampung, ikan-ikan melayari rindu. daun padi bersemayam teduh silsilah, jepet kepala merah.
Bertahun lepas,
Riwayat tinggalah ampas,
-dilarung pula kenangan itu.
Kisah magis tentang jepet, ikan lezat dari pojok kampung,
Sirna!
Telah sirna.
Sebeku beton merayapi sawah.
Demak, april 2016






Dedy Tri Riyadi

Rusa
Aku tak pernah tahu --
apakah dia bahagia
ketika pintu di lambung
perahu dibuka.
Seperti dari Mesir, ada yang
dipanggil untuk memanggul
sebatang dosa.
Aku bisa juga menduga --
dia berpura-pura.
Seperti dulu di Mara,
orang terpaksa minum
air pahit dari telaga.
Menuruni Ararat, dia menangis.
Merasa banjir belum berakhir.
Sewaktu merpati membawa
setangkai daun zaitun,
dia merasa begitu getun.
Barangkali, dia ingin berlari
mengitari padang. Atau berbaring
di samping batang tarbantin.
Barangkali dia memang ingin
berpaling dari kemah Si Tua
itu dan tak lagi menoleh
jejak tangis yang mulai kering.
Barangkaliinitak lain
karena dia hanya
seekor rusa.
2015











Dedy Tri Riyadi

Balada Tukang Kuda

Dia hampiri
hamparan rerumput
dengan sejumput niat
-- meletakkan kiat melekat erat
pada sebungkuk punggung.
Punggung yang lama memanggungkan sejarah agung
laskar penyerbu bermata lamur dari sebelah timur.
Punggung yang ketika membungkuk,
sedepa demi sedepa bangsa-bangsa bangkit dan takluk,
dan mengira kutukan telah ditimpakan
sejak besi-besi itu ditempa.
Meski besi berupa sanggurdi dan ujung pelana,
dia juga pedang dan cerana.
Pada sisinya, dia merasa dunia jadi meja judi
dan sebuah kekalahan pertama.
Tapi dia bukan seorang dari Pandawa.
Dia hanya tukang kuda.
Pemelihara yang memicu sebuah pacuan
dan penyedia pakan. Dan pada hamparan rerumput itu,
dia berjalan.
Dia berjalan seperti membawa susu
untuk bayi dalam dirinya. Dunia, katanya,
tak lebih dari dengus semata.
Selebihnya gema.
Karenanya dia berjalan,
bukan berlari.
Sebab dia membawa bayi dalam diri.
Bayi yang belum bisa mengerti
betapa bahaya ular yang menanti
di dekat akar dan sumber air.
Ular yang mengerti -- "O. Betapa sukar bisa memberi..."
Dia berjalan di rerumputan
tidak seperti Gautama pada kuntum padma.
Dia akan berjalan sampai padam warna matahari.
Sampai semua kuda habis dipacu,
di bawah basuhan biru langit itu.
Langit yang terbuka serupa matanya.
Serupa pandang yang tak tamat ditumpahkan
pada sebuah padang, di mana dia temukan
-- dirinya seperti deru ladam
di dalam sebuah pacuan.
Dan dia dengar kembali
gemerincing itu.
2016




Denting Kemuning

Perempuan Kunang –kunang dan Srigala Belia

Malam melesam memanggil  mimpi
Sejauh mana bermain dalam imajenasi
Bias asmara maya terselimuti
Tersayat asmara kembali pasi

Manis kunang-kunang dalam sebuah cawan
Sorot mata tajam mengujam
Sebatang rokok terisap dalam dalam
Dalam sudut kamar kenangan

Merebah girang di singgasana romantic
Srigala bergegas lepaskan senyap
Di lengkung langit yang pengap
Mata rabun runcingkan kumis

Geliat malam memuisikan mimpi
Melodi rindu melanda hati
Gebu lepaskan nafas cinta
Pada dinding kunang-kunang dan serigala
02-01-15


  

Denis Hilmawati

Gajah Menangis

Dor...! Dor ! Dor!
Peluru merobohkan seekor gajah
Bayinya sedang menyusu
Induk  Gajah terluka
Air mata berderai

Pemburu berhati batu
Tiada jera membunuh satwa
Hanya demi ambisi semata
Merusak habitat dan ekosistemnya

Bayi gajah meneteskan air mata
Induknya mati terkapar tanpa daya
Bagaimana nanti nasib dirinya
Tanpa induknya, bayi gajah terancam bahaya
Bekasi,  15 08 2016




Denis Hilmawati
Cinta INTA SEJATI INDUK MACAN

Seekor induk kera diterkam Jaguar
Menangis pilu karena sedang
menyusui bayinya
Sang Jaguar terlambat menyadarinya
Bayi kera tiada berdaya

Dibawanya pulang ke sarangnya
Bayi kera disusuinya
Bayi kera dan bayi jaguar bersaudara
Cinta Induk jaguar luar biasa

Bekasi,  14 Agustus 2016




Dharmadi, DP

Bak Sniper

dibidik sasaran
sejoli perkutut yang sedang pepasihan
di dahan phon mangga
tak lama ada letusan, dor;

seekor perkutut terkapar,
ada darah ada air mata.




Daviatul Umam

Ratapan Arwah Pohon

Kau jagal
Kau bakar
Tubuhku di negeri yang sangat penat
Dan memucat

Jasadku dimana entah
Aku tak peduli
Aku telanjur giur mencumbu Ilahi

Namun kemana anak-anakku memburu takdir?
Mungkinkah dicabik-cabik petir
Dikais sampah-sampah sungai dan selokan
Di laut kemiskinan yang tercipta dari murka hujan?

Ataukah hangus dalam sansai kemarau
Seiring puing-puing daging negara
Tambah hari semakin merisau?

Tidak!
Kuharap mereka selamat
Kuharap tiang merah-putih pulih tegak
Wahai yang terhormat!
Tiada aku
Tiada sesalkah hayatmu?
Memang aku yang direnggut maut
Tapi jiwa siapa sajakah turut terhanyut?
Sumenep, 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar