Anak Cicak
makhluk
yang terlihat rapuh itu kembali
datang,
lalu memandangku sekian lama
sepasang
matanya yang kecil berbinar
aku ingin
kenyang semut, seperti kemarin
ayo jatuhkan
lagi remah roti itu di sini
setidaknya
begitulah aku menafsirkan
pandang
mata penuh harap dari sawiyah
seekor
makhluk mungil ruangan ini --
anak cicak
yang berani cari makan sendiri
"sebentar,
aku sedang menuliskannya"
kataku
kepadanya, tapi aku terburu-buru
dua kata
terakhir hurufnya jadi tak rapi
29.07.2014 - KY
Little Lite
Burung Hantu
Terbanglah
lebih rendah
Sebab
tikus ada di tanah
Tak perlu
terbang tinggi
Bulan tak
sudi kau temui
Padang, 01052014
Little
Lite
Suara-suara
Di kepalamu
Ada suara tetes-tetes
darah
Jatuh dari luka yang
selalu nganga
Terkoyak pisau waktu
yang putus asa
Di kepalamu
Dengung igau beribu
pasang sayap lebah
Menyulut sumbu resah
tangis dan amarah
O, jiwa yang patah dan
lelah
Di kepalamu
Denting gelas arak iblis
dan malaikat yang bersulang
Gaduh pesta pora atas
surga yang dijanjikan Tuhan
Pengganti duniamu yang
hilang
Muarabungo,
20122016
Kepodang
Senja
Melukis senja,
Berbingkai cahaya berwarna gading,
Laut berombak dan sepasang angsa berbincang tentang lengang
dermaga,
Kucatatkan kau sebagai basah senja,
Larik larik kata pada sajak usang,
Buku harian yang tak lekang,
Sepasang kepodang, berkicau riuh di dahan kemuning,
Betapa senja adalah sebuah kitab kerinduan,
Yang tak pernah usai kita terjemahkan..
Mohamad Firdaus
Merubah Diri Jadi Pupa
aku hanya hendak bersemadi pada kehangatan rumah
untuk menjaga licin kulitku dari tajam angin dan gigil hujan
setiap ia turun merindukan bumi. sebelum waktu melilitku,
memerahku sampai napas tersengal dan pori mengucurkan
deras darah sebagai hukuman teruntuk penghuni bumi
telah kusimpan segala kesedihan dan juga kegembiraan
sebab mereka hanyalah pendusta yang akan membunuhku
sepulang dari perjalanan panjang dan melelahkan
membuatku beranjak mencari-cari tempat pembaringan
sementara yang tenang dari bising dan pikir yang gila
-ini merupakan batas di mana aku harus bersiap menekuri
waktu
sampai tubuhku mengeras menjelma rumah pupa yang malang-
aku hanyalah larva dengan tubuh dan hati yang melunak
hendak merubah rupa jadi penyihir dengan tatapan mata
di ujung musim yang ranum. kau akan jumpai tubuhku
menggantung
pada kulit ranting setelah keras tubuh merubahku jadi pupa
seperti petapa yang gemar merapal mantra sampai titik cahaya
merekah pada keras cangkang
Purwokerto, 31 Januari
2016
Mohamad Firdaus
Melepas Kupu-kupu
telah terwujud segala doamu yang kerap dibenamkan
lewat tetes airmata di bujur malam. waktu di mana kau adukan
seluruh resah sebab betapa pun diri ingin namun kau harus
tahan diri
menahan hati, memahami arti bahwa janji pasti terlunasi
dan pukau kini telah ada di tubuhmu serupa daya pikat
untuk dilihat. mengubah rupamu jadi elok. meninggalkan
jejak tapa sunyi. kadang angin mengajarkanmu agar tetap
bertahan
mengulitimu berlapis-lapis sampai habis atau dingin udara
akan datang dengan jubahnya: penuh restu dan pengampunan
terbanglah selagi angin tenang dan musim berpura-pura
sahabat
sebelum berlain pikir lalu menikam: jadikanmu pesakitan
siang malam
lupakan kosong kepongpong sebab ia telah jadi baju zirah
sejarahmu
yang telah mengelupas sejak kau bunuh hantu di tubuhmu
lihatlah, serbukserbuk pada sepasang sayapmu akan jadi kilau
mata
seperti putik bunga menggoda: apabila terpetik maka akan
binasa
melahapmu menuju kematian
Purwokerto 7 Januari
2016
Muakrim M Noer Soulisa
Negeri
Hewanesia
DPR-nya
monyet rakus
Presidennya
tikus
Mentrinya
bulus
Partainya
hush…! hush…! hush…!
Rakyatnya?
Silahkan
mampus!
Pulau Buru, 11 Agustus
2016
Muakrim M Noer Soulisa
Sesekali
Cobalah Jadi Binatang
Sesekali
cobalah hidup di lautan
Berenang
di palung yang paling palung
Menghindari
pukat bertaring
antara
karang karang sampah
hiu hiu
baja juga lembar surat penguasa
Bisakah
kau terbiasa?
Sesekali
jadilah liar di hutan
Berburu
di rimba yang paling rimba
Antara
sawit dan tapal batas terkikis
Liarlah
bersama auman predator kotor
juga hewan
hewan baja
Bisakah
kau terbiasa?
Sesekali
cobalah menari angkasa
Bercinta
di mendung yang paling mendung
Antara
awan kelam dan asap asap gelap
menarilah
bersama hujan
kemarau
serta
panas surya
Bisakah
Kau terbiasa?
Sesekali
cobalah jadi binatang
Bisakah?
Pulau Buru, 11 Agustus
2016
Mukti Sutarman Espe
Merindu
Burung Terbang
kemanakah
burung-burung
yang
dahulu acap kulihat
melintas
lazuardi
terbang
menghiasi bentang sawang
aku
kehilangan
kepodang
kuning yang tansah gelisah
kutilang
jambul yang suka berpasang-pasang
dan emprit
bulu abu-abu
yang
datang pergi selalu berombongan
kemana
mereka
tiada
seorang kenan berkabar
koran dan
televisi hibuk dengan dirinya sendiri
asyik
masyuk beritakan sampah
ranjang
kusut selebriti dan lidah ular politisi
aku
kehilangan
panorama
cahya mata
kepak
berirama sayap-sayap indah
aku
kehilangan
nyanyian
kalbu alam raya
kicau dan
cericit yang limbur melipur
kemana
burung-burung itu
adakah
mereka tlah pindah rumah
bersarang
di pagina buku
bahkan
larik dan kuplet syairmu
kemana?
kudus 2016.
Mukti
Sutarman Espe
Sajak dan
Ular sanca
seekor
ular sanca kembang
semalam
tersesat ke dalam sajakku
belang
kulitnya menjelma sapa
yang
dikirim hitam hutan
bagi hijau
perbukitan dan biru lautan
aku
pangling
coklat
kuning
putih
hitam
warni-warna
kulit ular itu
membuat
sajakku jadi kelabu
menafsir
tempat plesir terindah
apakah
hutan?
apakah
perbukitan?
apakah
lautan?
aku ragu
lalu
kuimpikan lutung, rusa, singa, gajah, banteng, srigala
rumput,
lumut, kol, teh, kentang, sawi
teri,
udang, cakalang, pari, paus, hiu
kawin
mawin
dan
melahirkan hutan baru di sajakku
seekor
ular sanca kembang
tersesat
dalam sajakku
di sela
kata, frasa, dan tanda baca yang tertera
susah
payah dicarinya hutan rumahnya dahulu
yang
selalu riuh dengan suara
desik
belalang
kicau
burung
jerit
bekantan
aum
harimau
lolong
srigala,
sia-sia
dan hutan
yang kuimpikan itu?
urung
datang di tidurku.
Nanang Suryadi
Kupu-kupu di Buku Waktu’
di buku waktu,
seseorang melukis bunga matahari.
seekor kupu-kupu hinggap di lembarnya
seekor kupukupu terbang
dari dalam buku dongeng. sayapnya basah,
menggelepar di atas kertas .
seekor kupukupu terperangkap jaring sepi
Nanang Suryadi
Seekor Ikan Berenang di
Langit
untuk: kang badri
@indiejeans
aku menghikmati
kesunyian, seperti menghikmati kehidupan. tak ada yang aneh dengan puisi
seperti juga senja ini,
seekor ikan berenang di langit, ikan yang kau lepas tadi pagi
seekor ikan berenang-renang
di langit, dan para perindu tertawa girang sekali
seekor ikan demikian
riang, berenang-renang di langit, langit yang tenang
aku gemetar menatap
langit, tapi ujarmu: lihat nanang, ikan berenang di langit, serupa kenang
para perindu, para
pecinta menyeru-nyeru, namun engkau tetap tersenyum melulu. “lihat ekornya
indah bukan?” ujarmu.
seekor ikan berenang di
langit. berjumpa dengan rindu
seekor ikan terbang ke
langit, mencari kolam yang penuh air terjun, sungai-sungai yang bening
Malang, 17 Oktober 2011
Nanang Suryadi
Aku ingin menangkap ikan
dari ide yang kering
seekor ikan melompat ke
kolam, saat banjir tiba. kolam itu kering di musim kemarau. seekor ikan
berenang di jalanan beraspal dan berdebu, sekering ide dalam kepalaku.
perhatikan ranggas pohon itu, daun-daunnya yang kuning, serupa rambutku yang
mulai rontok. siapa itu yang berteriak: jangan tertawa, langit masih tak ingin
menyelesaikan hujannya. kalimat sudah pernah aku tuliskan, dimana? mungkin di
dalam mimpimu saat membaca bukuku yang tak pernah diterbitkan. bagi kalimat
yang tak pernah sempat dituliskan tak akan ada yang menangisimu, katanya sambil
menghapus matanya yang sembab. ya, ya, karena puisi hanya permainan kanak yang
tak mau segera dewasa.
hei, kemana ikan yang
aku tangkap tadi? seekor ikan menggelepar gelepar di tanganmu, serupa kata-kata
menggelepar, di kolam kering. siapa itu yang berteriak: hei, kemana ikan yang
menggelepar tadi? dia melompat ke dalam kepalamu yang penuh air terjun.
aku akan kembali,
memungut remah dari kata-kata yang tak pernah dihabiskan. di mana alamatmu?
seekor ikan melotot dan melompat ke apartemen yang belum jadi. siripku, sayap
yang pernah patah di kelopak bunga, kata ikan itu, menceritakan dirinya yang
pernah menjadi kupu-kupu. ciumlah aku, kata bunga itu, kupu-kupu gemetar dan
sayapnya patah, saat itu.
sudah, sudah, tak ada
yang lebih sampah dari segala muntah, kata seekor ikan yang menggelepar di
dalam kepalaku. aku ingin tidur, terpejam dan melupakan dunia yang teramat
gaduh.
seekor ikan terbang ke
langit, mencari kolam yang penuh air terjun, sungai-sungai yang bening
Malang, 17 Oktober 2011
Navys Ahmad
Monolog Para Pembangun Rumah Tanah
saudara-saudara bangsa
manusia
berjuta tahun lalu kami
membangun rumah tanah
di alas warisan nenek moyang
ratu induk
rumah yang menumbuh dari
ludah-ludah
yang merekat kuat
bertingkat-tingkat
berkamar-kamar yang di
dalamnya
kami bertelur,
beranak-pinak
cucu-mencucu,
cicit-mencicit.
berjuta tahun lalu kami
bahu-membahu
kaki-mengkaki,
tangan-menangan
dalam racauan kemelut suara
alam
dalam tiupan hujan tarian
topan
rumah kami tak hancur
rumah kami hanya merapuh.
di alas ini kami taat
beribadah
melaksanakan perintah tuhan
menggigit, memotong,
menggotong
mengumpulkan remah-remah
pohon
tak ada yang menyembunyikan
tak ada yang mengambil hak
bersama
tak ada yang menyakiti
saudara.
saudara-saudara bangsa
manusia
kami yang bicara sekarang
adalah generasi cicit
jutaan tahun
dari cicit cicitnya cicit
moyang kami
para pembangun rumah tanah
di alas warisan moyang ratu
induk.
di alas baru ini kami tetap
taat beribadah
melaksanakan perintah tuhan
kami tetap bahu-membahu
menyatukan tangan dan kaki
kami yang kecil
di antara tarian sendok
semen
di antara deruan buldozer
di antara derap selinder.
kami sekarang membangun
rumah tanah
di atas lantai semen,
konblok, tembok
marmer, keramik, granit,
plastik
dan kami terus bekerja
menggigit, memotong,
menggotong
mengumpulkan remah-remah
semen.
kulit jari-jari tangan kami
melepuh
gigi-gigi kami gemetar
gemeretak
beberapa tanggal gusinya
berdarah.
saudara-saudara bangsa
manusia
kami para pembangun rumah
tanah
telah kehilangan tanah
tapi tak pernah kehilangan
nyala merah dalam darah.
Tangerang, 23-7-2016
Navys Ahmad
Salam dari
Kami
jika kau tebang ratusan rumah pohon kami
di manakah anak-cucu kami kelak berayun
berloncatan, bahkan terkadang terjatuh
mereka begitu polos tak pernah paham masa depan
tak ambil pusing masalah berat yang menimpa
yang mereka pikirkan adalah bermain dan makan
bermain di atas dedaun rimba raya dan menikmati
hidangan berkah alam raya di bawah kucuran hujan
mereka tidak seperti kami para orang tua yang meratap
meratap pada nasib meratap pada hukum alam keseimbangan
ya, kami telah banyak makan buah kesabaran atas tumbanganya
rumah-rumah harapan kami yang digergaji mesin, dibelah,
dihiris
lalu dibawa ke kota-kota peradaban yang melindunghangatkan
anak-anak para penghuninya begitu cinta dan mesra
sedangkan anak-anak cucu kami terpasung di batang hitam
tertusuk asap tebal, terkapar mengerang di hamparan arang.
Ni Made Rai Sri Artini
Balada Jalak Bali
Ingin ku bertanya padamu
beberapa hal
tentang duka yang merambati
pagar matanya
tentang piala kecemasan
yang selalu bertamu di kedua sayap kecilnya
Warna biru yang melingkari
matanya
tlah menulis berlapislapis
larat sepucat lantunan obituari
Bilah-bilah kedamaian
beranjak,
kicauan buntung asa puntung
mati terkapar di tanah
merah serakah
serabut jantungmu
Seandainya kau paham
tentang getar cahaya di mata anakmu
kau kan paham juga denyar
puisi di hutan ini
yang telah mengaliskan
ingatan tentang alinea gairah pepohonan,
belukar dan kepak sayap
yang menjadi ibu bagimu
dan bagiku
Desing peluru tlah menghentikan
kepak sayap itu
ujung senapanmu menelisik
setiap sudut hutan
Stagnan. Retak
Belulang sepi menjulurkan
lidah kegelapan di sekujur tubuhnya
Tiada lagi sehimpun puisi
tentang derit pagi
atau tentang detak kehidupan
yang hidup
Hanya sunyi mengular di
belukar dingin
mengunyah angkara dan
serakah sekaligus
menjadi seseduh cuka
( Tegaljaya, Februari 2016)
Ni Made Rai Sri Artini
Sekawanan Luka
Bersarang
di Liang Matamu Beku
" Jika aku bisa
memilih, suatu saat aku ingin lahir menjadi manusia
bukan menjadi pengadilan
bagi hutan-hutan dan isinya namun mencangkokkan cinta di setiap dahan
pepohonan."
Rimbun airmata tambun di
matamu beku
Hamburan sepi dan ngilu
mengular di pembuluh tangis
Mengurai tubuh hutan sawit
menjelma asing yang renik
berkas cahaya di belukar
hatimu tak untuk sesiapa
Tak jua untuk hidup yang
tak pernah kau tahu ujungnya
Kau merebah letih di
permadani sawit
mendesing memburu
mimpi-mimpi
yang kelam akan pentas
darah
Kau tak mampu lagi menjerit
atau mendengar sesuara
hanya letupan peluru
menulis garis hidupmu
Kau rumahkan harapan pada
angin bisu
mengangankan ketenangan
laksana senyap embun, kebebasan laksana udara
tak mampu lagi menghitung
hari di tempat rehabilitasi
tuk mengusir onggokan
tekanan yang melesak ke bilik ingatan
Rumpun puisi dadamu berhamburan lesat menemui langit
sesedih uap kopi tanpa kata
lesap ke baitbait angin
menjelma awan-awan
pancaroba penuh kerak kesumat
Sekawanan luka bersarang di
liang matamu beku
Di bilik keramat,
sunyi
Tak terjamah apa pun,
Meski hanya kucur kekata
atau bahkan helaan nafas sekalipun
( Tegaljaya, Februari 2016)
Novia Rika
Di Lengkung Garis Langit
Taiga
Di batas cakrawala terentang
Hutan salju remang
Di atas taiga berselimut lumut
Menerang lumut tua yang membusuk
Dimana lengkung krummholz terpahat
oleh angin putih
es
Menyebar tahun demi tahun
Matahari binasa
Di tengah angin malam
Mengekalkan lenggang angin
Dalam percakapan panjang dengan awan
menari bebas
menari lepas
Bulu-bulu keperakan bersinar
Di atas pecah matahari yang terbenam
Penyingkapan masa
Di antara batu-batu dimana
pepohonan yang terpencar, belur
Di rimba dataran tak berpohon
Jantung berdetak
Menyentak otot-otot kuat
Melayang di udara
Berlari liar di angin-angin
Di atas stepa tinggi
Melesat pemangsa bernafsu
Dekur lembut burung hantu
Di atas jemari konifer
Mengalun melintasi tanah permafrost
sebuah lullaby
merdu menawan
Kelinci liar menyelinap dalam gelap
Rusa liar merebahkan tanduk di semak dingin
Di atas cadas tepi bukit serigala kelabu berdiri terang
Di bawah rembulan
Melepas mata sengit
Terlampau dingin dari serpih salju
Penguasa tundra yang
jauh
Novia Rika P
Bumi Manusia dan Laga satwa
Permainan warna di punggung bukit
Melukis musim, kering, ranggas
Burung-burung lama t'lah lepas, ke langit
Bermigrasi ke tanah seberang samudera
Hening suara langit
Di pucuk musim, daun-daun gugur ke bumi
Angin kering membunuh semi
Di sudut langit warnanya pun runtuh
Terlecut terik yang menyurutkan mata air
Lebah t'lah gila menghisap bangkai bunga
Kupu-kupu menjilat kulit kayu yang bernanah getah
Kelinci terguling di liang-liang, menangkis mata pemburu
Tupai-tupai hilang di padang rumput gersang
Babi menerjang ladang-ladang
Sapi susut, kambing mengkerut
Rusa-rusa turun ke bumi
Dan harimau mencari mati di mata manusia,
ganas karena
takut,
takut
karena karma menjelma
di
bumi manusia dan laga satwa
berebut kehidupan
Akasia, 4 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar