H. Shobir Poer
Aku Burung
Ingin Berbicara
Aku burung ingin bicara:
di rumah miniatur rimbun, kami tinggal
mengalir gemericik air, temani senandung
di setiap pagi,siang, malam sambil mengepakkan sayap
ku menari bersamamu
kau dan aku, ciptaanMu yang saling berbagi
kau datang, tengok
kawankawan ku yang mengaum,
membagi makanan anakanakku yang mencicit,
menderit, berkokok, menyiulkan suara indah ke telingamu
di rumahku, hutan
belantara miniatur yang kau buat
aku sumringah betapa syukur ucap padamu
yang bertandang dan membagi cinta
dengan menaburkan senyum, tangan yang kau ulurkan
dan makanan makanan yang kau tebar di manamana
namun sayang, aku tak sanggung mematuk lagi
harimau terkatup mulutnya,
tak sanggup mengaum
kawankawanku mulai kehilangan cinta
rumah miniatur menjadi kandang neraka
banyak yang mati siasia
Tangsel, 17 April 2016
H. Shobir Poer
Tidurlah
di balik semburat wajahmu yang ramah
di balik teduhmu dan kata yang begitu lembut
di balik matahari kau
sembunyikan kata
di balik bulan menari kau curi hatiku
aku, membaca sudah isi cahya matamu
hewanhewan itu selalu ingin dimanja
tidur, mandi dan bermain bersama
taman margasatwa yang indah hanya rumah semata
kalian semua butuhkan sentuhan hati dan jiwa
bersapa dari hati ke hati, mengadukan keluh kesah
mengadukan mimpi yang gundah, karena pohonpohonya tumbang,
diambuk badai dan banjir, juga tangantangan yang jahil
di gelap dan temaram ini, yakinkan
kini tak perlu resah lagi, tidurmu hangat dan bermimpi indah
tidurlah.
Tangsel, 18 juni 2016
Hadi sastra
Elegi Seekor Burung
: secuil potret
kehidupan
Sebentar lagi ia
terbang
buka lembar hayati
untuk cericit yang
merintih
di sarang di ujung
dahan
Sementara, subuh
makin menggigit
berselimut dingin
halimun
menutup rapat
senyum mentari
menahan kepak
sayap
Reranting dan
sarang basah
hujan bertandang
semalam
mempertajam gigil
memilu rintihan
Tekad kepakan
sayap
tembus gumulan
awan
jemput sejumput
asa
demi cericit dan
kehidupan
Tangsel,
12 Mei 2016
Hadi sastra
Membaca Binatang
: analogi realitas
dan makna
Aku tak ingin
menjadi macan jika jiwaku gersang
tanpa rerimbun
hutan yang mengayomi
tanpa kawanan
binatang yang mengelilingi
tanpa titah yang
ditaati. Tak bernyawa
hanya auman
kosong, cakaran kuku-kuku cuma membekas
Sungguh tak ingin.
Jika tahta menjadi belenggu
mengekang kekuatan
sahaja
Aku tak ingin
menjadi gajah jika raga yang diterka
dengan kekokohan
otot belalai
sanggup mencabut
pohon hingga ke ujung akar
atau meratakan
benteng beton
namun tunduk oleh
angkusa dan serati
Sungguh tak ingin.
Jika kebesaran tak berharga
tanpa kedalaman
ilmu dan logika
Aku tak ingin
menjadi burung jika terbangku kopong
tanpa keyakinan
arah dan tujuan
tanpa ketangkasan
melawan angin
sebentar di dahan,
mengumbar siul dan kicauan
lalu mengawang
lagi. Lepas
Sungguh tak ingin.
Jika kebebasan menjadi petaka
menyekat ketajaman
paradigma
Pun tak ingin
menjadi semut, lebah, kelelawar
dan
binatang-binatang lain yang berkelompok
jika hanya sebatas
beramai-ramai
namun tak paham
realitas dan makna
terbius oleh
kuantitas. Tanpa kualitas
Sungguh tak ingin.
Jika kebersamaan menjadi hampa
mengaburkan
kedahsyatan koloni
Tangsel,
Juni 2016
Harmany
Nantinya
nantinya,
anak-anak sapi berlari di atas kerbau
dalam merdu bunyi pipit
dan berita burung hud
akan membangkitkan semua gairah
mimpi kita begitu mati, nantinya
burung-burung hantu gentayangan
pada malam begitu menakutkan
bulan dibawa ke tengah padi
bersama sinarnya; menerawang
serakan tanah lapang, di malam panjang
orang-orang memukul-mukul kepala;
juga di rumah mereka
anak-anak kecil luka merintih
oleh mimpi-mimpi panah yang tajam
di lembah angin lembut muara, nantinya
kucing hitam berlari
lari seperti kasuari
bergerak dalam hutan, rawa-rawa,
semua di jalur yang sama
roda jaman melindas mereka
setan di beri tuhan
tuhan dikambing-hitamkan
sebagai pusat pencerahan, katanya
cahaya di langit merah tembaga
hai! betapa melukainya hasrat dan impian
saling jerat tangis, saling dendam manis, nantinya
ibu buta menangis dingin
mengurung diri bersama patung jerami
tukang batu, mendulang
dibakarnya bintang siang dan malam
tak ada hati, hati-hati!
tak ada impian, mengimpikan
tak tidur juga tak bangun
dalam belaian angin lembut musim coro
tak peduli panas-terik dan hujan
di goa gelap kemiskinan
peduli kehidupan atau pun kematian
Madura, 2011
Harmany
Sajak
Dandang
jalanku jalan besi
kutilangtilangkutilangmu
burung terbang burung kesana
dandang putih dandang terbang
kau mati kukubur
kuburmu api nyunyur
lir sa alir alir lir lir.
kaki ku kaki emas
jejak ku jejak lajang
balikna balikno siapa tekad
aku lontar!
o suara gaok, o bunyi seok
ku usung ke bumbung
cahaya telah sirna
kaulah perawan tua
kemarilah bawa kain putih
lemparlah jambang kembang
o kutilangkutilangkutilangkutil-angkat berangkat
layanglayang melayang jauh di rimba
takkan burung ku tilang ajalmu
kubur tangis ku
tangis kubur ku siapa suruh titah ini
dialah berkurung sunyi
Madura, 2011
Hasan Maulana A. G
Hewan Liar
Berkeliaran
Hutan merupakan rumah bagi hewan liar
Hutan merupakan kawasan yang dilindungi
Manusia berkewajiban untuk menjaga dan melindungi hutan
beserta isinya
Namun, semenjak penebangan liar dan kebakaran hutan melanda
Hewan-hewan liar itu berkeliaran mencari rumah baru
Acap kali mereka memangsa apapun yang ada didepan mata
Untuk bisa bertahan hidup
Sekarang, hewan-hewan liar itu sudah punya tempat tinggal
baru
Tikus-tikus pengerat sekarang tinggal di gedung-gedung mewah
Buaya sekarang tinggal di hotel mewah
Ular berbisa bersembunyi dibalik apartemen
Mereka selalu berkeliaran dimana-mana
Awas hati-hati! Sering kali sifat liar mereka
Bisa melukai diri sendiri maupun orang lain
Dan rumah baru sudah menanti; dibalik jeruji besi.
Malaysia, 14-08-2016.
Hasan Maulana A. G
Apakah
Hutanku Masih Seperti yang Dulu?
Dalam limpahan alam kaya penyejahtera
Hijaunya daratan suburkan bumi bertabur harapan
Pada gemburnya tanah subur pendulung makmur
Apakah hutanku masih seperti yang dulu?
Yang ijo royo-royo, gemah ripah loh jinawi
Adem tentrem damai yang pernah tersemai
Tanah, tempat kita mengeja kelahiran sendiri
kini kian kusam seakan tak berarti
Pencemaran lingkungan, penebangan liar dan kebakaran hutan
Yang kerap kali melanda paru-paru dunia.
Malaysia, 15-08-2016.
Fabel Anak
Ular dan Katak
“ Katakan
padaku, Kek tentang kaum intoleran negeri ini?”
Kakek Resi
itu sejenak terdiam
Dielus
surai jenggotnya yang memutih
Lalu
suaranya yang berat terdengar :
“ Pernahkah kamu mendengar fabel si anak ular
dan katak?”
“Belum Kek”
Syahdan, begitu Resi itu mulai berkisah
Dahulu
anak ular dan katak itu bersahabat. Sangat akrab
Suatu sore
seusai bermain keduanya pulang ke induknya masing-masing
Induk si
anak ular menegur : kenapa baru pulang?
Dengan
lugunya ia menjawab : aku baru saja selesai bermain dengan teman baruku yang
lucu
Jalannya
tak seperti kita. Dia berjalan dengan meloncat-loncat.
Si induk
marah mendengar penuturan anak katak
Katanya :
Bodoh kamu! Dia itu katak musuh dan
makanan lezat kita
Sebaliknya
pula, karena terlalu sore si anak katak pun dimarahi induknya
Dengan
polos dia berkilah: aku baru saja bermain dengan teman akrabku
Induk
katak bertanya : siapakah temanmu itu?
Dia bukan
bangsa kita, emak. Tubuhnya panjang kalau berjalan melata.
Mendengar
itu Induk katak marah besar :
“ Goblok kamu. Itu musuh bangsa kita. Salah-salah kamu dijadikan
makanannya.
Kakek resi
sejenak terdiam lalu bertanya:
“Kira-kira apa yang terjadi bila keesokan
harinya mereka berdua berjumpa?”
Tentu
mereka masing-masing akan pasang kuda-kuda
Dengan
sorot mata saling membenci
Lupa sama
sekali tentang persahabatan yang terjalin
Selama
ini.
Semarang, 2016
Heru
Mugiarso
Tetesan
Air Burung Colibri
: laskar
PMK
Pernahkah
engkau belajar dari hikayat burung colibri
Tubuhnya
mungil tak seperkasa gagak apalagi rajawali
Tetapi
ketulusannya melebihi kekuatan semua
penghuni rimba
Tak
terkecuali si Raja hutan yang perkasa ?
Alkisah ,
suatu hari hutan tempat tinggal mereka terbakar
Oleh
tangan para durjana yang serakah
Lidah api
panas membakar seakan menggapai langit
Menghanguskan
semua pohon dan belukar
Semua
penghuni rimba berlarian ketakutan
Gajah yang
biasanya gagah kini ciut nyalinya
Harimau
yang garang lari terbirit-birit
Mengambil langkah seribu menjauhi rimba
Hanya
seekor burung Colibri yang tertinggal
dengan
kepak sayapnya yang kecil kesana kemari
mencari mata air
Dipatuknya sumber air dan diteteskan butiran air tak
seberapa itu
Ke belukar
yang terbakar merah saga
Selalu
berulang-ulang hal itu dilakukannya
Membuat
Gajah terheran dan tak bisa menyimpan tanya
: “Wahai
Colibri, apa mungkin dengan caramu itu
Kebakaran
hutan ini bisa engkau padamkan ?”
Apa jawab
burung Colibri atas pertanyaan itu
Gajah pun
terhenyak dan tersindir dibuatnya
Dengan
tutur kata tenang namun sungguh bermakna
dalam
“ wahai sang Perkasa , tugas dan kewajibanku
sudah aku jalankan .”
Semarang, 2016
Jen Kelana
Kutitipkan
Asa Maleo
Rimba Celebes menyemai matayangan
ketapang juga tetumbuhan agathis
bersekutu bibir pantai menyisakan kering
kemudian menjadilah persinggahan
Demikianlah, Linaeus memarka binomial nomenclatur
pada tata nama macrocephalon maleo
menggariskan moyang kingdom animalia
lantas menancapkan jejak
seberang Wallacea dan Weber
Pada pasir yang menyelimuti pesisir pantai
sejoli sejalan itu menggali-gali istana marwah
bagi peletak penerus silsilah leluhurnya
seperti juga kita, yang ingin selalu setia
begitulah maleo menitipkan pesan
melepasliar langsam kerinduan
Kemudian kepak sayap-sayap melemah
tak ada lagi nyanyi di halaman rumah
padahal selalu kurindukan riang anak-anak kecil
bersama senandung dolanan bercengkerama
mungkinkah tersisa cerita untuk selanjutnya
tersebab maleo telah pula berkemas
meninggalkan selaksa kenang
Maka sudahi saja pesta
lantaran tarian-tarian kita menghapus
penanda-penanda maleo dari leluhurnya
dan perburuan itu juga menggaritkan luka
pada lembaran-lembaran cerita anak kita
lalu kutitipkan asa maleo atas bentang sayap-sayap lelah
sepanjang kesat masa tua menulisi
hingga kembali menjadi kisah yang sama
2016
Jen Kelana
Kuau Perenggan Tanah Peladang
Lama tak kulihat riang reranting
dan daun-daun luruh beraroma lembab
sebab dedahan tak lagi mampu mengundang kicaunya
menjadi sesinggahan meski sekejap
Dangau panggung beratap ilalang
hamparan padi gogo rancah musim penghujan
di titik pandang rimba menggeliat
memutar ulang kilasan ruang kekanak
entah pada pusaran ke berapa
Pada bibir-bibir hutan perenggan tanah peladang
sayap-sayap mengepak hinggap
lalu nyaring lengking mendera senja
kuau sendu mematah bulan madu
Masih adakah tempatmu di pertiwi ini?
Sementara hutan tak lagi nyaman
menjadi peraduan sepanjang mimpi
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar